Monday, October 19, 2020

Wangi Malam Minggu

 

Aku memberdayakan delusiku

Kutuntun sengaja pada jiwa hausku

Untuk kembali membawa harum wewangian malam minggumu

 

Kau manis

Senyummu menampik tak sengaja dalam jiwa

Hingga sewaktu-waktu aku lupa, senyummu terpajang apik dalam bingkai jendela

 

Kau manis

Basa-basimu terekam tak tahu bagaimana

Sampai sewaktu-waktu luka, aku spontan lupa caranya kembali nelangsa

 


Saturday, October 10, 2020

Mimpi

@yusliani_as


Perihal yang telah menjadi dan termasuk ke dalam diri, bukan tanpa peluh, bukan tanpa keluh, bahkan bukan tanpa sesak sesekali.

Tentang cinta yang katanya punya konsekuensi, tak terkecuali pun dengan mimpi.

Realisasinya sulit dieja, beberapa prosesnya kadang susah diterka.

Satu hal membuat melambung, satu lainnya membuat murung.


Maka, jika tekad tak begitu kuat, menyerah akan gampang mendekat.

Jika serah tak lagi banyak, pasrah akan membuat tercekat.


Namun, pada jiwa yang mulai lelah menggapainya. Istirahatlah!

Tak perlu mencari alasan lebih untuk bertahan dari biasanya.

Istirahatlah!

Beri jeda pada hati yang ingin menyerah.

Istirahatlah!

Lalu tanyakan kembali langkahmu sejauh ini untuk apa.

Istirahatlah!

Lelahmu harus dikikis secepatnya.

Istirahatlah!


Sampai esok kau temui kembali matahari, kembalikanlah tekadmu seperti awalnya.

Sebab mimpi tak akan pernah terealisasi bagi manusia yang kembali menutup diri.


Jakarta Barat, 10 Oktober 2020

Saturday, September 26, 2020

Sebatas Dengar Tak Mampu Menyekat Pandang


 

Baru selang seminggu ku dapati kata-katamu yang tak sempat ku dengar penuh.

Cernaanku tentang apa-apa yang berujung kubaca via pesan whatsapp, lambat laun menarik gundah.

Rasa-rasanya kita perlu jeda.

Namun, pada perkara penyampaian yang ku anggap guyon, kamu amat bisa mengembangkan rasa tidak nyaman. Padahal wujudmu sama sekali tak mengikuti.

Pikirku berpendar kemana-mana, mengagungkan jawab yang berujung sia-sia.

Semakin diterka, semakin mati asa  yang ada.

Dibiasakan untuk pura-pura lupa, bersalah malah makin membuncah.

Barang kali kemarin itu aku dibenarkan oleh situasi, maka tanpa dosa menggeleng dengan iya.

Yang tak habis pikir, paradigmamu selalu kutuntun pada dia yang dituju.

Namun kali ini ku tahu, sebatas dengar tak mampu menyekat pandang.

Memang, kita tak bisa memilih untuk jatuh cinta pada siapa, tapi pengharapan yang amat sangat semoga dirimu menemukan dia yang sama-sama tertambat.

Sunday, September 20, 2020

Menyarahlah!

Saat alasan kau eja dengan iya, terikat kita tak akan lagi ada.  
Menyerahlah! Jangan lagi mencoba. 
Berpuralah baik saja! Tak perlu lagi banyak tanya.

Ambil alih tempatku dengan paksa. 
Cepat! Gantikan dengan yang lebih betah.
Lalu, tutup rapat-rapat tanpa perlu sisa.

Hingga akhirnya kita berangsur mereda, melupa, dan kembali menjadi biasa saja. 

Saturday, September 5, 2020

Aku Ingin Pulang

 Aku ingin pulang, 

Mengendus wangi aroma tubuhmu yang bingar

Bersemayamlah dalam mimpi !

Seorang anak gadis tengah balas dendam dalam tidur


Aku ingin pulang, 

Mengembalikan remuk redam yang mulai menyerang

Bilamana kau temui aku dipelupuk mata

Jangan tanya mengapa !

Lantas aku akan sesenggukan


Aku ingin pulang, 

Melihat keluguan samar-samar dibayangan

Dekaplah aku kepangkuan ! 

Tak perlu banyak kata, mulailah perdengarkan irama


Aku ingin pulang, 

Mendengar kisah yang tak bisa dilibatkan

Teruslah berkisah ! 

Nina bobokan aku dalam setumpuk bait per baitnya


Aku ingin pulang, 

Menatap lamat-lamat sampai lepas yang terikat


Aku ingin pulang, 

Menumbuhkan seribu benih yang salah satunya telah dimatikan


Aku ingin pulang, 

Mengisi kembali api yang tak sengaja dipadamkan

Sunday, August 16, 2020

Halu

 Ada yang menggebu dibatas halu

Dihantarkannya rasa dengan dicumbu cemburu

Yang kalah tetap aku

Yang membinasakan adalah waktu


Lamat-lamat bersarang lama tak tentu

Kamu bukan lagi jelmaan yang menjeda

Saat ini membatas adalah ciptamu

Tak lagi kenal pulang apalagi bersarang


Diyana malah melupa

Dilupa malah kembali menjelma

Bukan sekelumit yang dipunya

Balik arah adalah akhirnya


Bilang iya, tegaskan tidak! 

Tak boleh lagi A jika sekejap mata

Bukan lagi jangan dengan siksa

Tapi pasti yang dinanti tak perlu lagi drama

Friday, July 24, 2020

Ceritakan Padaku!

Dipanggilah Ia oleh seorang Bapak, “Nak” katanya.
Lelaki yang kamu sebut Bapak lama mencerna, mendelik-delik mata tengah menjabarkan kata.

Beliau terlampau bingung menjabarkan kenyataan pada anak gadisnya.
Gadis lucu sekaligus lugu pada masanya.
Padahal gadis itu telah menjelma sebagai manusia kepala dua, namun Bapak tak serta merta membuatnya iba.

 “ada apa?” tanyamu seketika.
Bapak masih saja mengap-mengap, tak kunjung diterima apa-apa yang pas untuk buka suara.
Lantas kamu ikut diam menerka-nerka.
Ada apa? Ada apa? Katamu mengulang tanya tanpa suara.

Lama waktu berlalu, Bapak menepi jarak pada kursimu.
Tangan besarnya kini mengusap-usap rambutmu, lembut dengan kasih sayangnya yang penuh.

Lalu perlahan Bapak berkata, “Nak, apa-apa yang tidak lagi bisa kau ceritakan pada Ibu, ceritakanlah padaku!”


Wangi Malam Minggu

  Aku memberdayakan delusiku Kutuntun sengaja pada jiwa hausku Untuk kembali membawa harum wewangian malam minggumu   Kau manis Se...